Rabu, 27 April 2016

Pendapatan Negara dari Transportasi Online




Pendapatan Negara dari Transportasi Online

Kerusuhan yang terjadi kemarin harus menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera menyikapi perkembangan ekonomi berbagi (sharing-economy) yang mulai menimbulkan konflik horizontal di antara sesama rakyat miskin yang sama-sama sedang mencari pendapatan.

Perkembangan model ekonomi ini bukan hanya persoalan menguatnya penggunaan teknologi informasi di pasar, tetapi juga munculnya tantangantantangan baru yang harus diregulasi untuk melindungi para pihak yang berpartisipasi dalam model ekonomi ini, baik pihak konsumen, sopir, operator aplikasi maupun pengguna lain yang tidak terikat langsung.

Wacana yang berkembang di bawah adalah apakah transportasi-berbagi (shared transportation ) yang berbasis aplikasi perlu mengikuti aturan hukum sesuai dengan transportasi umum saat ini atau tidak? Bahkan lebih dalam lagi, apakah transportasi-berbagi seperti GrabCar, Uber, Go-Jek dapat disebut sebagai transportasi umum atau tidak?

Definisi tentang sarana transportasi baru ini memang menjadi membingungkan karena operator aplikasi itu sendiri selalu mengiklankan diri mereka sebagai penjual layanan yang menyerupai transportasi umum yang dikenal selama ini. Timbul persepsi dari para pengusaha dan pengemudi transportasi umum tentang persaingan yang tidak sehat karena pengemudi yang bergabung dengan Uber atau GrabCar tidak mengikuti kewajiban membayar pajak dan retribusi.

Padahal, pengemudi dan penumpang di transportasi berbagi adalah sama-sama konsumen aplikasi yang perlu dilindungi hukum juga. Saya sendiri berpendapat bahwa layanan seperti Go-Jek, Uber atau GrabCar adalah layanan transportasi-berbagi dan akan sulit untuk masuk dalam definisi kategori transportasi umum. Layanan ini adalah bagian dari fenomena yang saat ini dikenal dengan sebutan ekonomi berbagi atau sharing economy.

The ING International Special Report on the Sharing Economy mendefinisikan sharing economy sebagai penggunaan barang-barang yang nilainya akan terus menurun jika didiamkan saja sehingga barang tersebut dimanfaatkan bersama-sama. Inti dari ekonomi-berbagi adalah memanfaatkan nilai yang terus menyusut ketika ia tidak digunakan.

Oleh sebab itu, agar tidak mubazir, nilai tersebut harus dapat dimaksimalkan dan beruntung bahwa revolusi teknologi informasi dapat mewujudkan hal tersebut. Ia berlaku tidak hanya komoditas seperti kendaraan atau peralatan, tetapi juga manusia. Eropa dan Amerika adalah benua yang telah mendorong berkembangnya model ekonomi ini. Benda-benda atau layanan yang akan dibagi nilainya akan berkembang setiap tahunnya.

Saat ini, mobil adalah barang yang paling banyak dibagi penggunaannya, tetapi dalam tahun-tahun ke depan, beberapa benda yang akan dibagi adalah rumah peristirahatan, peralatan olahraga, mainan anak-anak, sepeda, dan barangbarang lain. ING juga melakukan survei kepada 150.000 orang di 15 negara dan memperoleh jawaban bahwa semakin banyak orang yang ingin berpartisipasi dalam ekonomi-berbagi ini dan bersedia dibayar untuk membagi nilai dari barang-barang yang mereka miliki.

Saat ini 1 dari 10 (9%) orang di Amerika sudah berpartisipasi dalam model ekonomi ini, diikuti oleh Turki, Spanyol dan Inggris. Data tersebut mengungkapkan bahwa konflik antara layanan konvensional dan layanan berbagi berpotensi tidak hanya di sektor transportasi, tetapi juga sektor-sektor lain. Saat ini di Indonesia saja, layanannya sudah berkembang seperti cleaning service, pijat, ritel, layanan kecantikan, dan sebagainya.

Dengan perlambatan ekonomi dunia yang sedang terjadi saat ini, tetapi dengan kelas menengah yang semakin membesar, peluang sharing-economy ini bisa menjadi peluang yang harus dipikirkan secara matang oleh pemerintah. Teknologi informasi di Amerika dan Eropa tentu akan menyambut baik antusiasme masyarakat tersebut.

Ribuan aplikasi yang menyediakan layanan berbagi akan muncul dan mereka tentu akan berekspansi atau akan ditiru oleh pasardiIndonesia. Fenomenaitu akan melahirkan risiko-risiko yang baru. Untuk itu pemerintah harus segera menyiapkan langkahlangkah untuk mengantisipasi berkembangnya ekonomiberbagi di masa mendatang.

Pemerintah dan DPR harus menyusun peraturan-peraturan baru yang terkait, misalnya kewenangan memverifikasi identitas para pelaku yang terlibat dalam ekonomi-berbagi tersebut. Perlu undang-undang yang dapat melindungi konsumen apabila terjadi penyalahgunaan aplikasi. Pemerintah perlu menetapkan batasan tentang sektorsektor apa yang dapat dimasuki oleh aplikasi berbagi.

Misalnya mengenai bagaimana komposisi modalnya, status hukum perusahaannya, hingga barang-barang apa yang harus dibagi. Selain itu penting soal bagaimana standar kualitas, keamanan identitas konsumen di tangan pembuat aplikasi, informasi atau data apa saja yang boleh dan yang tidak boleh diambil perusahaan dari konsumen. Aturan yang paling penting juga adalah bagaimana tumbuhnya aplikasi tersebut menyumbangkan pendapatan bagi negara.

Dalam kaitan dengan masalah terkini, yaitu transportasi, Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla perlu cermat dan tepat dalam membagi wewenang di antara kementerian terkait. Para menteri anggota kabinet perlu menyadari bahwa masalah transportasi tidak lagi menjadi wilayah Kementerian Perhubungan, tetapi juga masuk wewenang Kementerian Komunikasi dan Informatika dan mungkin departemen lain seperti Kementerian Hukum dan HAM atau Lembaga Ekonomi Kreatif.

Kebijaksanaan dan kecermatan Presiden untuk memberi porsi wewenang yang proporsional sesuai dengan lingkup tugas dan bebannya menjadi tantangan yang berat karena ini adalah fenomena baru. Pembagian wewenang yang jelas dan tegas dapat menghindari konflik di antara para menteri. Meski demikian, ini juga adalah tantangan yang memang harus dibereskan.

Tidak hanya oleh pemerintah sebagai regulator, tetapi juga anggota DPR sebagai legislator karena para menteri juga bekerja menurut panduan undang-undang yang berlaku saat ini. Kita juga menyadari bahwa teknologi informasi sudah menjadi bagian dari kehidupan modern sejak Zaman Revolusi Industri.

Transportasi kita misalnya, telah berkembang dari zaman bemo hingga taksi yang menggunakan GPS. Namun dalam perkembangan tersebut, kita masih melihat upah sopir atau pengemudi tidak pernah mencukupi. Bahkan para pengemudi perusahaan tersebut mengeluh upahnya relatif tidak berkembang meskipun perusahaannya berkembang pesat.

Oleh sebab itu, pemerintah dan DPR juga perlu membuat peraturan yang tidak hanya mengatur transaksi ekonomi di ekonomi-berbagi di masa depan, tetapi juga memastikan bahwa kesejahteraan rakyat meningkat karena per-kembangan teknologi informasi tersebut.

Selasa, 26 April 2016

Usaha Kecil dan Menengah

Usaha Kecil dan Menengah

Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.”

Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM)

UKM adalah singkatan dari usaha kecil dan menengah. Ukm adalah salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara maupun daerah, begitu juga dengan negara indonesia ukm ini sangat memiliki peranan penting dalam lajunya perekonomian masyarakat. Ukm ini juga sangat membantu negara/pemerintah dalam hal penciptaan lapangan kerja baru dan lewat ukm juga banyak tercipta unit unit kerja baru yang menggunakan tenaga-tenaga baru yang dapat mendukung pendapatan rumah tangga. Selain dari itu ukm juga memiliki fleksibilitas yang tinggi jika dibandingkan dengan usaha yang berkapasitas lebih besar. Ukm ini perlu perhatian yang khusus dan di dukung oleh informasi yang akurat, agar terjadi link bisnis yang terarah antara pelaku usaha kecil dan menengah dengan elemen daya saing usaha, yaitu jaringan pasar. Terdapat dua aspek yang harus dikembangkan untuk membangun jaringan pasar, aspek tersebut.
Kinerja nyata yang dihadapi oleh sebagian besar usaha terutama mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia yang paling menonjol adalah rendahnya tingkat produktivitas, rendahnya nilai tambah, dan rendahnya kualitas produk. Walau diakui pula bahwa UMKM menjadi lapangan kerja bagi sebagian besar pekerja di Indonesia , tetapi kontribusi dalam output nasional di katagorikan rendah. Hal ini dikarenakan UMKM, khususnya usaha mikro dan sektor pertanian (yang banyak menyerap tenaga kerja), mempunyai produktivitas yang sangat rendah. Bila upah dijadikan produktivitas, upah rata-rata di usaha mikro dan kecil umumnya berada dibawah upah minimum. Kondisi ini merefleksikan produktivitas sektor mikro dan kecil yang rendah bila di bandingkan dengan usaha yang lebih besar.
Untuk meningkatkan daya saing UMKM diperlukan langkah bersama untuk mengangkat kemampuan teknologi dan daya inovasinnya. Dalam hal ini inovasi berarti sesuatu yang baru bagi si penerima yaitu komunitas UMKM yang bersangkutan. Kemajuan ekonomi terkait dengan tingkat perkembangan yang berarti tahap penguasaan teknologi. sebagian terbesar bersifat STATIS atau tidak terkodifikasi dan dibangun di atas pengalaman. Juga bersifat kumulatif ( terbentuk secara ‘incremental’ dan dalam waktu yang tertentu ). Waktu penguasaan teknologi ini bergantung pada sektor industrinya ( ‘sector specific’) dan proses akumulasinya mengikuti trajektori tertentu yang khas.
Di antara berbagai faktor penyebabnya, rendahnya tingkat penguasaan teknologi dan kemampuan wirausaha di kalangan UMKM menjadi isue yang mengemuka saat ini. Pengembangan UMKM secara parsial selama ini tidak banyak memberikan hasil yang maksimal terhadap peningkatan kinerja UMKM, perkembangan ekonomi secara lebih luas mengakibatkan tingkat daya saing kita tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita seperti misalnya cina dan Malaysia. Karena itu kebijakan bagi UMKM bukan karena ukurannya yang kecil, tapi karena produktivitasnya yang rendah. Peningkatan produktivitas pada UMKM, akan berdampak luas pada perbaikan kesejahteraan rakyat karena UMKM adalah tempat dimana banyak orang menggantungkan sumber kehidupannya. Salah satu alternatif dalam meningkatkan produktivitas UMKM adalah dengan melakukan modernisasi sistem usaha dan perangkat kebijakannya yang sistemik sehingga akan memberikan dampak yang lebih luas lagi dalam meningkatkan daya saing daerah.
Nah bagi Anda yang ingin memulai usaha sendiri, berikut ini kami rangkum beberapa bisnis UKM (Usaha Kecil Menengah) yang cukup menjanjikan, bahkan diantaranya bisa kita jalankan dengan modal yang kecil.
1. Bisnis UKM di Bidang Kuliner
Bisnis kuliner adalah jenis usaha yang akan selalu laris sepanjang masa, alasannya karena makanan adalah kebutuhan pokok manusia yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Bisnis kuliner ini pun punya banyak kategori, mulai dari makanan ringan (camilan), minuman, hingga makanan pokok. Semua kategori di bisnis kuliner ini (camilan, minuman, makanan pokok) punya potensi yang sangat bagus, tergantung cara kita dalam memasarkannya.
Salah satu contoh bisnis kuliner camilan yang cukup sukses adalah bisnis Tahu Jeletot Taisi yang dimiliki oleh Bapak Rudi dari Depok. Usaha tahu jeletot pedas yang dipasarkan melalui internet dengan sistem waralaba ternyata membuahkan hasil yang luar biasa. Saat ini pengusaha tahu jeletot tersebut sudah memiliki banyak mitra di sekitar Jabodetabek.

2. Bisnis UKM di Bidang Fashion

Sama halnya dengan bisnis kuliner, bisnis fashion (pakaian) adalah jenis bisnis yang sangat potensial dan akan selalu dicari oleh banyak orang. Alasannya sangat sederhana, pakaian adalah kebutuhan sekunder bagi manusia, dan manusia sekarang ini punya banyak keinginan untuk model pakaian mereka.
Bisnis fashion memiliki banyak sekali kategori yang bisa dimanfaatkan, misalnya kategori pakaian pria atau wanita, pakaian muslim, pakaian model korea, dan masih banyak lagi. Salah satu bisnis busana muslim yang cukup sukses adalah Jilbab Rabbani yang membidik target market khusus wanita muslimah. Jilbab Rabbani juga memberikan kesempatan kepada pengecer untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan produk mereka dengan cara menjadi reseller.
Yang menarik dari bisnis fashion saat ini adalah, kita bisa bisa memiliki bisnis fashion dengan modal yang sangat minim namun potensi keuntungannya cukup menggiurkan. Banyaknya suplier fashion yang menawarkan sistem penjualan dengan cara reseller ataupun dropship, sehingga kita cukup mengeluarkan modal yang relatif kecil untuk memulai bisnis ini.

3. Bisnis di Bidang Pendidikan

Pendidikan adalah modal penting bagi perkembangan tiap generasi sebuah bangsa. Boleh dibilang bangsa yang memperhatikan pendidikan generasi penerus mereka adalah bangsa yang akan sukses di segala lini. Nah, karena begitu pentingnya pendidikan dan masih kurangnya sarana pendidikan yang ada di negara kita ini, maka ini bisa menjadi peluang usaha yang bisa dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki keterampilan atau keahlian di bidang tertentu.
Sebenarnya ada banyak sekali jenis usaha kecil menengah yang bergerak di bidang pendidikan, salah satunya adalah lembaga pendidikan robot terbesar di Indonesia, yaitu Robota Robotics School. Lembaga pendidikan ini memang belum menyentuh semua kalangan, namun perlahan dan pasti dunia pendidikan robotika akan menyebar ke seluruh masayarakat Indonesia.
Contoh lain bisnis UKM dibidang pendidikan adalah lembaga pendidikan bahasa Inggris, International Language Program (ILP). Perkembangan dunia kerja dan dunia usaha yang mengharuskan kita memiliki kemampuan dalam berbahasa Inggris tentunya bisa menjadi sebuah peluang usaha. ILP menawarkan bisnisnya dengan sistem waralaba, sehingga mereka yang tertarik dengan bisnis ini bisa memiliki usaha sendiri tanpa harus memulainya dari nol. Jadi, peluang usaha di bidang pendidikan memang sangat potensial.

4. Bisnis di Bidang Otomotif

Perkembangan dunia otomotif di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Lihat saja jumlah sepeda motor dan mobil yang semakin banyak, tentunya ini bisa menjadi salah satu peluang usaha bagi mereka yang jeli memanfaatkannya. Bisnis otomotif tidak harus besar, yang penting hasilnya menguntungkan dan jangka panjang.
Beberapa usaha yang bisa dimanfaatkan di bidang otomotif adalah jasa bengkel dan spare part, jasa cuci motor/mobil, menjual perlengkapan kendaraan bermotor, dan masih banyak lagi. Banyak sekali ceruk di bisnis otomotif yang bisa kita manfaatkan, misalnya menjual helm sepeda motor. Bagi sebagian orang mungkin jualan helm itu biasa saja, namun bagi mereka yang jeli pasti akan bisa mendapatkan keuntungan besar hanya dari berjualan helm sepeda motor.

5. Bisnis UKM di Bidang Agrobisnis

Anda pasti pernah mendengar lagu Koes Plus “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat, kayu dan batu jadi tanaman…”. Yup, negara kita memang terkenal dengan berbagai tanaman yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan kebutuhan lainnya, mulai dari beras, aneka sayuran, aneka buah-buahan, dan tanaman penting lainnya. Kebutuhan akan bahan pangan dan nutrisi nabati tentunya membuat bisnis UKM agrobisnis di bidang pertanian akan terus dibutuhkan masyarakat Indonesia, bahkan kita bisa mengekspor ke luar negeri.
Bisnis UKM di bidang Agrobisnis lainnya adalah peternakan. Seperti kita ketahui, protein hewani adalah salah satu kebutuhan pokok manusia, itulah sebabnya mengapa bisnis peternakan akan selalu dibutuhkan. Sayangnya, walaupun usaha agrobisnis peternakan telah menelurkan banyak miliuner sukses di Indonesia, belum banyak pengusaha muda yang menggeluti bidang ini karena dianggap kolot dan hanya cocok untuk masyarakat pedesaan. 

6. Bisnis di Bidang Teknologi Internet

Bukan rahasia lagi bahwa internet memberikan banyak sekali peluang usaha bagi kita. Bukan hanya pada mereka yang telah memiliki bisnis REAL, tapi juga pada mereka yang belum memiliki bisnis. Yang saya maksudkan di sini adalah bisnis internet yang memang khusus dibangun untuk bisnis internet jangka panjang, atau biasanya disebut dengan #startups bisnis.

Ada banyak jenis startup yang ada di Indonesia, mulai dari startup di bidang #eCommerce, media online, aplikasi, dan lain-lain. Salah satu startup bisnis yang unik adalah komik digital Si Juki yang menawarkan konten segar dan lucu bagi para pembacanya. Startup Indonesia lainnya yang cukup populer adalah Buka Lapak, yaitu situs ecommerce yang mempelopori keamanan transaksi online. Masih banyak startup lainnya yang sedang berkembang di Indonesia, ini membuktikan bahwa pasar online merupakan pasar yang sangat potensial.

Selasa, 19 April 2016

Perkembangan Industri di Indonesia



Industrialisasi Di Indonesia

Perkembangan industri melibatkan berbagai penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di Indonesia, kegiatan pembangunan ditunjang oleh tumbuhnya berbagai jenis industri dengan berbagai jenis kegiatan
Sekarang ini, banyak negara-negara di dunia terus berupaya untuk menumbuhkan ekonominya. Langkah yang diambil yaitu dalam masalah industri. Industri memang menjadi faktor fenomenal untuk menunjang perdagangan. Mereka saling bersaing untuk mendapatkan tempat di pasar global. Karena di dalam pasar global itu sendiri terjadi perdagangan bebas dari dan tentang suatu negara. Salah satu hal yang mendukung ialah sektor industrialisasi.
Perkembangan industri di Indonesia termasuk cukup cepat. Sektor industry dapat tumbuh rata-rata mencapi 12,8%. Kecepatan ini logis karena baru dalam taraf awal melalui penanaman modal secara besar-besaran, tetapi kemudian pertumbuhannya menurun bila mendekati titik kejenuhan, kecuali bila pasarannya dapat dikembangkan terus-menerus. Perkembangan sector industry antara 1985-1988 adalah sebagai berikut: tahun 1985 (11,9%); 1986 (9,29%); 1987 (10,16%); 1988 (11,9%); dan tahun 1989 (9,09%) sebagai angka perkiraan.
Sejauh ini pengembangan sektor industri makin marak, itu sebenarnya tuntutan globalisasi itu sendiri. Di Indonesia, kota-kota industri mulai berkembang dan menghasilkan barang-barang produksi yang bermutu. Namun, ada banyak industri pula di Indonesia yang sebagian sahamnya adalah ahasil investasi asing, bahkan ada juga perusahaan dan industri yang secara mutlak berdiri dan beroperasi di Indonesia
Sebagai contoh saja, industri otomotif sepertai Astra, Indomobil, New Armada. Pada dasarnya perusahaan-perusahaan itu hanya merakit dan kemudian menjualnya ke masyarakat. Berarti hal itu dapat dikatakan bukan hasil karya anak negeri, melainkan modal asing yang ada di Indonesia.
Untuk itulah, seharusnya bangsa ini lebih dalam untuk meningkatkan sumber daya manusianya. Dengan demikian dapat disimpulkan ilmu pengetahuan dan teknologi ialah sarana dalam mengembangkan SDM termasuk menumbuhkembangkan industrialisasi dan menjalankan perekonomian bangsa dengan baik.


Penyerapan Tenaga Kerja Transportasi Online



Penyerapan Tenaga Kerja Transportasi Online

Indonesia di periode tahun lalu sebesar Rp 463,1 triliun telah menyerap tenaga kerja sampai 1,33 juta orang. Dilihat dari realisasi nilai, penanaman modal sepanjang 2014 jauh meningkat dari capaian 2013 yang sebesar Rp 398,6 triliun. Namun dari penyerapannya tenaga kerja justru menurun.
Dari data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rabu (28/1/2015), penyerapan tenaga kerja pada 2013 mencapai 1,83 juta orang dengan realisasi investasi Rp 398,6 triliun. Tapi merosot menjadi 1,33 juta tenaga kerja untuk penanaman modal senilai Rp 463,1 triliun.
Rinciannya, sebanyak 260.156 tenaga kerja di kuartal I 2014, sedangkan kuartal II sebanyak 350.803 tenaga kerja terserap, naik lagi di kuartal III menjadi 349.377 tenaga kerja dan 470.510 di kuartal IV tahun lalu. Secara keseluruhan 1.330.846 tenaga kerja.
Sedangkan kondisi di 2013, total penyerapan tenaga kerja menembus 1.829.950 orang. Mencakup 361.924 di kuartal I, meningkat di kuartal II menjadi 626.376, kemudian turun di kuartal III menjadi 411.543 dan 430.107 pada kuartal IV 2013.
Kepala BKPM, Franky Sibarani mengatakan, tren investasi sepanjang tahun lalu ada aksi wait and see dari investor sehingga pencapaian investasi dari kuartal per kuartal tidak melonjak signifikan. Hal ini berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja.

Referensi : http://bisnis.liputan6.com/read/2167739/investasi-meroket-penyerapan-tenaga-kerja-malah-merosot

Rabu, 13 April 2016

Transfortasi Gojek Online VS Transfortasi Ojek Pangkalan




Peribahasa mengatakan semakin tinggi pohon semakin kencang pula angin menerpanya, mungkin kini tepat ditujukan pada layanan jasa transportasi yang tengah naik daun yaitu Go-Jek. Sejak come back  mereka ke pasar dengan membawa aplikasi mobile, GoJek memang banyak menuai pujian dari berbagai pihak, tetapi tidak semuanya. Penolakan-penolakan justru kini mulai ditunjukkan oleh tukang ojek yang belum bergabung dengan Go-Jek itu sendiri.
Sebagai salah satu kota di dunia dengan kondisi kemacetan terparah, banyak warga Jakarta menganggap jasa ojek sebagai alternatif transportasi dalam menembus kemacetan. Para tukang ojek ini biasanya berkumpul di dekat lokasi perumahan, perkantoran, sekolah, atau tempat umum lainnya untuk menunggu penumpang. Penghasilannya fluktuatif bergantung pada ramainya penumpang setiap hari dan banyak yang mengaggap mereka tidak terogranisir dengan baik.
Melihat peluang tersebut, beberapa pihak mencoba memanfaatkannya dengan menghadirkan layanan ojek profesional seperti Go-Jek, GrabBike, Antar.id, dan HandyMantis. Go-Jek yang telah hadir dari 2011 dan berhasil come back dengan aplikasi mobilenya, mungkin yang paling menjadi hype saat ini. Sebagai pionir di Indonesia, banyak sanjungan yang mengalir pada GoJek, termasuk dari dari Gubernur DKI Jakarta Bapak Basuki Tjahaja Purnama yang juga turut mengapresiasi kehadirannya.

Jasa ojek profesional vs jasa ojek pangkalan

 


Banyak kelebihan yang ditawarkan oleh jasa ojek profesional ini, khususnya melalui teknologi. Melalui sebuah aplikasi mobile, para konsumen ojek dimudahkan untuk menggunakan jasa transportasi alternatif ini. Mulai dari menentukan tujuan, transparansi tarif, kemudahan menghubungi rider, pelayanan yang nyaman, hingga pelebaran layanan untuk mengirim paket ataupun makanan.
Sadangkan dari sisi rider (tukang ojek), pihak penyedia jasa ojek profesional umumnya mendekati dengan penawaran bagi hasil yang atraktif dan perlindungan kecelakaan serta jiwa. Tapi, semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang menerpanya.
Meskipun menuai banyak sanjungan, bukan berarti layanan ojek profesional seperti GoJek tak mendapat hambatan sama sekali. Belum lama ini ada kasus rider Go-Jek meminta konsumen untuk membatalkan pesanan karena ancaman tukang ojek pangkalan sekitar. Melihat hal ini, wajar jika kini masyarakat banyak yang beranggapan bahwa para tukang ojek konvensional mulai gerah dengan kehadiran layanan ojek profesional seperti Go-Jek dan sejenisnya.
Pihak penyedia jasa ojek profesional seperti Go-Jek dan GrabBike sebenarnya sudah banyak melakukan pendekatan dengan pihak ojek pangkalan dengan berbagai penawaran untuk bergabung, nyatanya banyak yang masih menolak. Singkatnya, seperti yang diberitakan Kompas, alasan mereka yang menolak adalah mereka merasa “ribet” dengan segala aturan yang harus mereka patuhi. Bahkan ada pula yang keberatan dengan tata cara untuk bergabung dengan Go-Jek yang dianggap berbelit dengan harus melengkapi beberapa dokumen yang dibutuhkan.
Jika melihat dari sudut pandang tersebut, wajar jika masyarakat berpendapat bahwa ojek konvensional ini buruk pelayananannya. Tarif yang semena-mena, pelayanan yang kurang nyaman, tak ada jaminanan keamanan jika terjadi hal buruk di jalanan, dan lain sebagainya. Tapi, benarkah sepenuhnya seperti itu?
Nyatanya, meski tak dianggap terorganisir, ojek pangkalan ini sebenarnya memiliki struktur sosial yang tertata rapih dalam suatu komunitas atau paguyuban. Sistem paguyuban ini tidak main-main, di sana mereka menentukan tarif pasar yang berlaku, sistem antrian, bagi-bagi rejeki, dan juga pelanggan lokal. Penerapannya lebih ke arah kekeluargaan, bukan korporasi seperti yang diterapkan oleh jasa ojek profesional.
Memang jika harus dijabarkan lebih lanjut, fungsi dari paguyuban ini masih sangat abstrak dan tak bisa diukur secara pasti karena erat kaitannya dengan sosial. Melalui paguyuban, tukang ojek juga bisa mendapat “asuransi” berupa bantuan keluarga atau teman. Selain itu, tak sembarang tukang ojek juga bisa bergabung untuk masuk dalam satu paguyuban.
Masih tepatkah bila kita menyebut ojek konvensional tidak terorganisir?

Waktu dan preferensi pasar adalah penentu akhir

 

Jika ingin dilanjutkan perdebatan mana yang lebih baik dan mana yang buruk, saya rasa tidak akan menemukan ujungnya untuk waktu sekarang. Industri yang dimasuki oleh jasa ojek profesional yang memanfaatkan teknologi seperti yang dilakukan Go-Jek, GrabBike, dan sejenisnya ini masih hijau. Perlu waktu untuk pembuktian dari segala sisi terobosan konsep yang dilakukan oleh penyedia jasa ojek profesional ini, karena tak mudah untuk merubah preferensi pasar yang sudah terbentuk lama.
Saat ini, para penyedia jasa ojek profesional memiliki tantangan yang cukup berat. Selain harus dapat memenangkan hati masyarakat, mereka juga harus dapat memenangkan hati para tukang ojek konvensional untuk bergabung. Jika tidak bisa menjalankan keduanya, bukan hanya kepercayaan masyarakat yang hilang, tapi juga kepercayaan dari para pelaku sistem lama untuk bergabung.
Baik itu ojek profesional ataupun ojek pangkalan, keduannya memiliki kelebihan masih-masing yang tak terbantahkan. Banyak yang mendukung terobosan seperti Go-Jek, tapi tak sedikit pula yang paham ilmu sosial yang memberikan dukungan pada ojek konvensional agar tetap bertahan.
Sebagai pendatang, saya sendiri cenderung lebih memilih jasa ojek profesional. Meskipun demikian, saya juga percaya bahwa dalam waktu dekat ini layanan ojek konvesnional tak akan mati terbunuh, tetapi mereka akan mengalami masa sulit dalam bertarung. Pada akhirnya waktu dan juga mereka yang dapat memenangkan preferensi pasarlah yang akan jadi penentu siapa yang pantas untuk dipertahankan nanti.